Radja Nainggolan Menyesal Tak Bela Timnas Indonesia, Singgung Uang dan Rolex
JAKARTA – Mantan gelandang Timnas Belgia, Radja Nainggolan, mengungkapkan penyesalannya karena tidak pernah membela Timnas Indonesia sepanjang karier internasionalnya. Pemain berdarah Indonesia itu mengaku baru melihat keputusan tersebut dari sudut pandang berbeda setelah memasuki usia 38 tahun.
Dalam wawancara dengan media Belgia Het Nieuwsblad, Nainggolan berbicara mengenai pengalamannya bersama Timnas Belgia serta kesan terhadap sepak bola Indonesia. Ia mengaku terkesan dengan antusiasme suporter Garuda yang dinilainya sangat besar.
Nainggolan menyoroti dukungan suporter Indonesia yang mampu memenuhi stadion untuk pertandingan internasional. Menurutnya, atmosfer pertandingan di Indonesia begitu meriah, bahkan ketika menghadapi lawan seperti Vietnam atau Irak.
Ia juga menyinggung keuntungan yang bisa diperoleh pemain keturunan yang memilih memperkuat Timnas Indonesia. Nainggolan menyoroti popularitas, peluang komersial, hingga dukungan sponsor yang dapat menjadi bekal bagi pemain setelah pensiun dari sepak bola profesional.
Nainggolan bahkan menyebut sejumlah merek mewah seperti Louis Vuitton, Hublot, dan Rolex ketika membicarakan sponsor yang diterima pemain. Menurutnya, popularitas bersama Timnas Indonesia dapat memberikan nilai tambah bagi citra dan peluang karier pemain di luar lapangan.
Penyesalan tersebut berkaitan dengan perjalanan Nainggolan bersama Timnas Belgia yang berakhir tanpa kesempatan tampil di Piala Dunia 2018. Ia pernah menjadi bagian dari generasi pemain Belgia dan mencatatkan 30 penampilan internasional dengan torehan enam gol serta tiga assist.
Namun, hubungannya dengan pelatih Roberto Martinez berakhir setelah ia tidak masuk dalam skuad Belgia untuk Piala Dunia 2018. Keputusan itu menjadi salah satu hal yang masih ia soroti ketika mengenang perjalanan karier internasionalnya.
Nainggolan mengakui bahwa saat masih muda, ia tidak terlalu mempertimbangkan kemungkinan membela Indonesia. Kini, setelah melihat kembali perjalanan kariernya, ia merasa kesempatan memperkuat Garuda selama bertahun-tahun mungkin bisa menjadi pilihan yang berbeda.
Ia bahkan menyampaikan bahwa dirinya berpotensi menjalani karier internasional yang panjang bersama Timnas Indonesia seandainya memilih negara tersebut sejak awal. Pernyataan itu menjadi bentuk penyesalan atas keputusan masa lalu, bukan berarti ia pernah resmi memperkuat skuad Garuda.
Radja Nainggolan lahir di Antwerp, Belgia, pada 4 Mei 1988. Ia memiliki darah Indonesia dari ayahnya yang berasal dari Sumatra Utara. Pada akhir 2023 hingga 2024, ia sempat bermain di Indonesia bersama Bhayangkara FC sebelum kembali melanjutkan kariernya di sepak bola Belgia.
Pengakuan Nainggolan kembali memunculkan perbincangan mengenai besarnya dukungan publik terhadap Timnas Indonesia serta potensi komersial yang menyertai pemain. Di sisi lain, kisahnya juga memperlihatkan bagaimana keputusan dalam karier internasional dapat dipandang berbeda seiring bertambahnya usia dan pengalaman.
Sumber: CNN Indonesia











