Wamen Stella Soroti Lulusan yang Kurang Tangguh
Depok – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, mengungkapkan keluhan pelaku industri mengenai kualitas lulusan perguruan tinggi di Indonesia. Menurutnya, sebagian lulusan dinilai telah memiliki bekal pengetahuan akademik, tetapi masih kesulitan menghadapi tekanan dan tantangan di dunia kerja.
Pernyataan tersebut disampaikan Stella dalam acara Akademi Kepemimpinan Perguruan Tinggi di Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Kamis (22/10/2026). Ia mengatakan, masukan dari kalangan industri menjadi perhatian pemerintah dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan tinggi.
Stella menjelaskan bahwa salah satu keluhan yang diterimanya berkaitan dengan daya tahan lulusan baru ketika mulai bekerja. Sejumlah perusahaan menilai kemampuan akademik saja belum cukup apabila tidak disertai ketekunan, kemampuan beradaptasi, dan kesiapan menghadapi tantangan profesional.
Menurut Stella, terdapat lulusan baru yang memilih mengundurkan diri dalam waktu relatif singkat meskipun harus membayar denda kepada perusahaan. Ia mencontohkan adanya pekerja yang bersedia membayar denda hingga Rp60 juta untuk mengakhiri hubungan kerja karena merasa tidak sanggup menghadapi situasi di tempat kerja.
Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi salah satu gambaran mengenai persoalan yang perlu diperhatikan dalam proses pendidikan. Perguruan tinggi tidak hanya diharapkan menghasilkan lulusan yang menguasai teori, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan dan bertahan menghadapi berbagai tuntutan pekerjaan.
Stella menegaskan bahwa ijazah sarjana tetap menjadi salah satu kualifikasi yang dibutuhkan oleh perusahaan. Namun, dunia industri juga mempertimbangkan kemampuan nyata, karakter, serta kesiapan lulusan dalam menjalankan tanggung jawab profesional.
Ia menilai perguruan tinggi perlu mengevaluasi proses pembelajaran agar mahasiswa memperoleh bekal yang lebih sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Pengembangan keterampilan praktis, ketekunan, dan kemampuan menghadapi kesulitan dinilai penting untuk mendukung keberhasilan lulusan setelah menyelesaikan pendidikan.
Selain itu, pemerintah berupaya memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan dunia industri. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memetakan kebutuhan tenaga kerja agar kurikulum dan kompetensi yang diajarkan di kampus lebih sesuai dengan perkembangan pasar kerja.
Dalam proses tersebut, masukan dari pelaku usaha diperlukan untuk mengetahui keterampilan yang dibutuhkan perusahaan serta kekurangan yang masih ditemukan pada lulusan. Dengan demikian, perguruan tinggi dapat menyesuaikan pembelajaran berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan.
Stella juga menyoroti pentingnya membangun karakter lulusan yang memiliki daya juang dan kemampuan beradaptasi atau resilience. Menurutnya, kualitas pendidikan perlu mencakup penguasaan ilmu sekaligus kesiapan mahasiswa menghadapi dinamika lingkungan profesional.
Meski demikian, keluhan yang disampaikan industri merupakan masukan yang perlu dikaji lebih lanjut dan tidak berarti seluruh lulusan perguruan tinggi memiliki persoalan yang sama. Kondisi setiap pekerja juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan kerja, pola komunikasi, dan sistem pengelolaan perusahaan.
Pemerintah berharap kerja sama yang lebih erat antara kampus dan industri dapat membantu meningkatkan kualitas lulusan Indonesia. Dengan penyesuaian kurikulum dan penguatan kompetensi, lulusan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga keterampilan yang dibutuhkan untuk memasuki dan berkembang di dunia kerja.
Sumber: Kompas.com











