Harga Obat Baru di AS Turun pada tahun 2025, Berkurangnya Terapi Gen Berbiaya Tinggi Jadi Faktor Utama
WASHINGTON – Harga peluncuran obat resep baru di Amerika Serikat mengalami penurunan pada tahun 2025 setelah mencapai rekor tertinggi pada tahun sebelumnya. Meski demikian, biaya obat-obatan inovatif yang dipasarkan tetap tergolong sangat tinggi, terutama untuk terapi penyakit langka dan kanker.
Berdasarkan laporan Reuters, median harga daftar (list price) tahunan obat baru yang disetujui regulator Amerika Serikat pada tahun 2025 tercatat sekitar US$216.000 atau sekitar Rp3,5 miliar per pasien per tahun (kurs Rp16.300 per dolar AS). Angka tersebut turun dibandingkan median harga pada tahun 2024 yang mencapai lebih dari US$370.000, namun masih jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Para analis menilai penurunan tersebut bukan disebabkan oleh perubahan strategi penetapan harga perusahaan farmasi ataupun kebijakan pemerintah, melainkan karena lebih sedikit terapi gen dan terapi sel berharga sangat mahal yang memperoleh persetujuan edar pada tahun 2025.
Sepanjang tahun yang lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) hanya menyetujui lima terapi gen dan terapi sel, lebih sedikit dibandingkan tujuh terapi yang disetujui pada masing-masing tahun 2023 dan 2024. Terapi jenis ini umumnya diberikan hanya satu kali, tetapi memiliki harga yang dapat mencapai jutaan dolar per pasien.
Obat Penyakit Langka Masih Mendominasi
Meskipun median harga menurun, rata-rata harga peluncuran obat baru pada tahun 2025 masih mencapai sekitar US$416.000 per tahun. Angka tersebut mencerminkan masih banyaknya obat inovatif yang ditujukan untuk menangani penyakit langka dan kondisi medis kompleks dengan pilihan terapi yang sangat terbatas.
Salah satu contohnya adalah terapi untuk sindrom Barth, penyakit genetik yang sangat langka, yang dipasarkan dengan harga mendekati US$800.000 per tahun. Di sisi lain, terdapat juga obat-obatan dengan harga jauh lebih rendah, seperti obat tetes mata untuk gangguan penglihatan seharga sekitar US$1.050 dan obat penurun kolesterol sekitar US$5.400 per tahun. Perbedaan harga tersebut membuat rata-rata keseluruhan tetap berada pada level yang tinggi.
Laporan tersebut disusun oleh firma riset 3 Axis Advisors yang menganalisis harga peluncuran 42 obat baru yang dipasarkan sepanjang tahun 2025. Analisis tidak mencakup vaksin, diagnostik produk, antibiotik yang digunakan sesekali, maupun potongan harga dan rabat yang biasanya dinegosiasikan antara produsen obat dengan perusahaan asuransi.
Obat Kimia Lebih Banyak Disetujui
Data menunjukkan lebih dari 67 persen obat baru yang disetujui FDA pada tahun 2025 merupakan obat berbasis molekul kecil (molekul kecil), seperti tablet atau kapsul berbahan kimia sintetis. Proporsi ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 62 persen.
Sebaliknya, obat biologi yang diproduksi dari sel-sel kehidupan cenderung lebih kompleks dan membutuhkan biaya penelitian serta produksi yang jauh lebih tinggi. Karena umumnya merupakan terapi pertama untuk suatu penyakit dan belum memiliki pesaing, perusahaan farmasi dapat menetapkan harga premium terhadap produk tersebut.
Kebijakan Pemerintah Dinilai Belum Berdampak Besar
Selama tahun 2025, industri farmasi juga menghadapi tekanan dari pemerintahan Presiden Donald Trump, yang mendorong berbagai kebijakan untuk menekan harga obat resep di Amerika Serikat. Pemerintah bahkan mencapai sejumlah kesepakatan dengan perusahaan farmasi besar agar harga obat di AS lebih mendekati harga yang berlaku di negara-negara maju lainnya.
Namun, sejumlah pakar kesehatan menilai dampak kebijakan tersebut terhadap peluncuran obat baru masih sangat terbatas.
Peneliti kebijakan kesehatan dari Harvard Medical School, Dr. Benjamin Rome, mengatakan tren harga tidak dapat diukur hanya dari data satu tahun. Menurutnya, perubahan yang terjadi lebih dipengaruhi oleh jenis obat yang memperoleh persetujuan dibandingkan adanya perubahan mendasar dalam strategi penetapan harga industri farmasi.
Sementara itu, Geoffrey Joyce dari University of Southern California Schaeffer Center for Health Policy & Economics menilai berbagai upaya penurunan harga obat yang dilakukan pemerintah sejauh ini lebih bersifat simbolis dan belum memberikan dampak nyata terhadap keputusan perusahaan dalam menetapkan harga produk baru.
Pasien Masih Menghadapi Beban Biaya Tinggi
Pada tahun 2025, FDA menyetujui 51 obat baru, di sekelilingnya merupakan obat kanker. Lebih dari separuh obat yang disetujui juga berstatus Orphan Drugs, yaitu obat untuk penyakit langka yang menyerang kurang dari 200.000 orang di Amerika Serikat.
Status tersebut memberikan berbagai insentif kepada perusahaan farmasi, termasuk masa eksklusivitas pemasaran yang lebih panjang. Konsekuensinya, banyak produsen mematok harga tinggi untuk memperoleh keuntungan dari pasar yang relatif kecil.
Meskipun perusahaan farmasi berpendapat bahwa obat inovatif mampu mengurangi biaya perawatan jangka panjang melalui penurunan angka rawat inap dan kunjungan ke rumah sakit, para ahli menilai pasien tetap harus menanggung beban biaya yang sangat besar untuk memperoleh akses terhadap terapi terbaru.
Dengan perkembangan teknologi medis yang semakin pesat, tantangan terbesar bagi industri farmasi dan pemerintah adalah menemukan keseimbangan antara mendorong inovasi obat baru dan memastikan masyarakat dapat memperoleh akses terhadap pengobatan dengan harga yang lebih terjangkau.
Sumber: Reuters










