China Bantah Jadi Dalang Banjir Bandang Nepal-Tibet
Kementerian Luar Negeri China menegaskan bencana tersebut merupakan bencana alam yang berkaitan dengan keruntuhan gletser, bukan akibat aktivitas proyek infrastruktur China. Bantahan ini muncul setelah sejumlah tudingan di media sosial Nepal yang mengaitkan pembangunan hydropower dengan tragedi banjir tersebut.
Banjir bandang terjadi setelah bagian gletser di kawasan Himalaya runtuh dan membawa material berupa es, batu, lumpur, serta puing dalam jumlah besar ke sistem sungai. Aliran deras kemudian menerjang wilayah Nepal dan Tibet, menghancurkan permukiman, jalan, jembatan, fasilitas listrik hingga kawasan perbatasan.
Menurut laporan Reuters, bencana tersebut telah menewaskan lebih dari 900 orang di Nepal, sementara ribuan lainnya masih dinyatakan hilang. Tim penyelamat juga terus mencari ratusan pekerja yang diduga terjebak di terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air.
China Tegaskan Sudah Berbagi Data
Selain membantah keterlibatan proyek hydropower, Beijing juga menepis kritik mengenai kurangnya peringatan dini sebelum bencana.
China menyatakan telah memberikan informasi meteorologi dan hidrologi kepada Nepal serta berkomitmen memperkuat kerja sama dalam penanggulangan bencana.
Namun, sejumlah pejabat Nepal sebelumnya menyampaikan kepada Reuters bahwa informasi mengenai kondisi gletser, potensi longsoran, dan perubahan ketinggian air belum diterima secara memadai. Nepal bahkan mendorong adanya sistem pertukaran data yang lebih cepat agar peringatan dini dapat diberikan kepada masyarakat sebelum bencana terjadi.
Pertemuan antara pejabat Nepal dan China pada Mei 2026 sebelumnya juga membahas peningkatan kerja sama terkait pemantauan gletser, danau glasial, banjir serta potensi bencana di kawasan perbatasan.
Faktor Perubahan Iklim Jadi Sorotan
Sejumlah ahli menilai perubahan iklim turut meningkatkan risiko bencana di kawasan Himalaya. Pemanasan global dapat mempercepat pencairan gletser dan membuat kondisi pegunungan menjadi semakin tidak stabil.
Reuters melaporkan bahwa gletser di kawasan Hindu Kush Himalaya menghadapi tekanan besar akibat perubahan iklim. Kondisi tersebut meningkatkan potensi terjadinya longsoran es, banjir bandang, dan luapan danau glasial.
Dengan kondisi medan yang ekstrem dan sulit dipantau, para ahli menilai sistem peringatan dini serta pertukaran informasi antara Nepal dan China menjadi semakin penting.
Untuk saat ini, operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung. Kedua negara juga menghadapi ancaman bencana susulan akibat keberadaan danau yang terbentuk setelah material longsoran membendung aliran sungai.
Sumber: CNN Indonesia